Kisahku di Hari Selasa, Mendamaikan Hubungan Suami Istri Hingga Closing

Sore ba’da magrib, usai saya sholat magrib berjamaah, ada salah satu jamaah yang mendekati. Pak Hasyim namanya (bukan nama aslinya), beliau termasuk jamaah yang sangat rajin sholat berjamaah dan selalu di shaf paling depan atau paling tidak shaf ke dua.

Agak gemetaran saat mau menceritakaan kisah rumah tangganya, Saya langsung yang memulai, dengan bertanya, “Ada apa pak?” Apa yang bisa saya bantu? Baru beliau menyampaikan kisahnya.

“Begini pak Kiyai, saya berumah tangga diperlakukan seperti pembantu,” lalu saya bertanya, kenapa bisa begitu? Beliau melanjutkan kisahnya, “Saya disuruh-suruh  nyuci pakeannya, juga pakean anaknya (anak tirinya) dan cucu saya, saya juga disuruh belanja ke pasar kebutuhan sehari-hari.”

“Jika saya nolak maka seluruh isi kebun binatang keluar, di antaranya kata yang sangat menyakitkan hati saya pak kiyai, di bilang, ‘Kalau kamu tidak nikah dengan saya, paling kamu jadi gelandangan, paling kamu ngemis di jalan, atau, jika saya layani akan semakin jadi marahnya!”

Pak Hasyim ini pekerjaannya sebagai biro jasa, tapi semenjak pandemi sepi pendapatan, Pak Hasyim bilang, “Saya mau kerja bangunan tidak boleh pak kiyai, saya mau pergi dari rumah nyari pekerjaan lain tidak boleh juga!”

Terus saya bertanya, “Maaf pak, bapak masih berhubungan badan tidak dengan istri, ini saya tanyakan untuk mengetahui sejauh mana hubungan suami istri nya, karena jika sudah menolak hubungan suami istri tanda sudah tidak cinta lagi.

Lalu ia menjawab, “Oh kalau yang itu masih normal pak, maksudnya masih tetap berhubungan baik layaknya suami istri, lalu saya bilang, “Oh beres pak kalau begitu!” Pak Hasyim kemudian melanjutkan kisahnya.

“Saya bawa pulang HP pemberian pak kiyai, istri saya marah besar, tidak percaya HP itu pemberian kiyai. Bahkan disuruh mulangin lagi, “Saya ceritakan tentang pak kiyai, ‘Itu maa.. Pak Kiyai yang PKS, yang suka ngisi pengajian di Masjid Al Hidayah, tetap tidak mau tahu, bahkan saat dengar PKS, istri saya malah makin marah. Bahkan minta suruh datengin pak kiyainya ke rumah!”

Nah sampai di sini, Pak Hasyim merasa beruntung katanya, kesempatan agar saya bisa memberikan nasehat ke istrinya.

“Ok pak siap!” bada isya itu saya tawarkan diri ikut ke rumah Pak Hasyim.

“Alhamdulillah!” kata Pak Hasyim dengan mata berbinar. Ia melanjutkan kisahnya, “Sebenarnya perlakuan istri saya kepada saya terlalu buruk kiyai, jika saya ceritakan semua dan saya sudah lama sekali mau cerita ke pak kiyai tapi malu, baru ini saja rasanya saya tidak kuat lagi!”

Setelah isya, usai dzikir dan doa bersama jamaah masjid Al Hidayah, saya langsung bergegas keluar. Perlu dikatahui, istri Pak Hasyim ini beda pilihan politik ketika Pilpres 2014 dan 2019. Ia makin kesal sewaktu tahu suaminya sudah membuat KTA PKS.

Pak Hasyim meminta saya menjelaskan tentang PKS dan menasehati istrinya tentang kehidupan berumahtangga, agar tidak marah-marah terus ke suami. Pak Hasyim yang saya kenal orangnya lembut, jika bicara sopan, kalem ya. Beliau orang Jawa dan budaya jawa melekat dalam karakternya meski sudah lama tinggal di ibukota. Sementara istrinya orang Manado Sulawesi Utara yang terbiasa berkata lugas. Ternyata mereka juga dulunya berbeda agama.  Hal ini baru saya ketahui malam itu.

Tiba lah di rumah Pak Hasyim, saya di belakang Pak Hasyim. Setelah ia masuk, saya dipersilakan masuk, beliau dua kali menemui istrinya untuk keluar dari kamar. Terlihat agak berat, sayup-sayup saya dengar pak Hasyim bilang, “Itu pak kiyai yang ngasih hp ke saya, Katanya kamu mau ketemu?” Saya dengar sayup-sayup jawabannya, dengan suara agak keras, terdengar suara masih marah dengan suaminya.  “Sebentar,.nunggu iklan dulu!” dalam hati saya, “Ooh berarti istri pak Hasyim sdg lihat sinetron di TV.”

Kurang lebih dua menit kemudian baru keluar. Saya ucapkan salam terlebih dahulu, beliau jawab salam saya, lalu Bu Hasyim seakan-akan mengeluarkan semua isi hatinya yang selama ini terpendam, marah semarah-marahnya di depan saya. Marah pada suaminya. Terlihat jelas dari raut mukanya.

Di antaranya, “Ini pak! suami macam apa! Sholat rajin, puasa rajin tapi selingkuh. Mana ada iman suami macam gini pak!” katanya.

Sebelumnya saya memang sudah mengawali dengan memperkenalkan diri. Bahwa saya teman suaminya di masjid, ya kadang ada yang manggil ustadz, Pak Hasyim malah manggil kyai. Saya ceritakan apa yang saya kenal tentang suaminya sebagai pembuka perbincangan saat itu, bahwa Pak Hasyim orang yang rajin ibadah, terutama sholat berjamaahnya.

Istri Pak Hasyim terus mengungkapkan isi hatinya dengan amarah dan saya tetap menjadi pendengar atau sebagai bak sampahnya kalau kata Ustadz Cahyadi Takariawan. Usai meluapkan amarahnya, baru saya sampaikan tentang kehidupan dan kesenangan yang kelak akan diterima oleh kita orang beriman, surga yang tiada puncak bahagianya dan saya bilang, “Ibu semua itu yakin akan kita raih sebentar lagi, terlebih saat ini sudah akhir zaman. Saya ceritakan tentang adanya Pandemi sebagai bentuk tanda itu. Apalagi kalau baca berita dan prediksi para pakar, tentang kemungkinan gempa dan tsunami besar Pulau Jawa. Bahkan tingkat permukaan tanah di Jakarta setiap tahun makin turun.

Saat istri pak Hasyim sudah terbawa dengan kisah-kisah yang saya sampaikan, baru saya masuk ke materi tentang PKS. Yang saya sampaikan, pertama memperkenalkan Ketua Majelis Syura PKS Doktor Salim Segaf Al Jufri. Seorang habaib keturunan Nabi Muhammad SAW yang juga cucu Pahlawan yang namanya jadi nama Bandar Udara di Palu Sulawesi Tengah. Sama dengan ibu dari Pulau Sulawesi.

Saya juga memperkenalkan Presiden PKS Ahmad Syaikhu. Santri Pesantren NU Buntet Cirebon, lulusan STAN, mantan PNS BPK RI. Saya juga menjelaskan budaya di PKS itu pengajian. Ini satu-satunya partai yang terbentuk dari pengajian.