Siapakah Mereka yang Memilih Jalan Senyap Nan Berduri itu?

Mbak Amalia sedang menyiapkan pengurusan jenazah
Mbak Amalia sedang menyiapkan pengurusan jenazah

Netra saya terhenti membaca arti ayat ini. Tetiba ia mengembun merasakan betapa dengan ayat ini Allah memberikan pengingatan kepada manusia dengan begitu lugas. Saya seorang fakir ilmu seketika terbetik, “Kebaikan akan dibalas kebaikan pula,” ungkapan yang sering kali saya dengarkan dari lisan para tetua.

        Dan benarlah, embun yang menggantung akhirnya meneteskan rinai. Tergugu saya mengingat betapa orang-orang  baik di sekeliling saya hari ini merelakan seluruh waktu, tenaga, bahkan mengeluarkan biaya yang tak sedikit untuk memberikan kebaikan kepada saudaranya. Kebaikan yang apabila dinalar akan menjadi satu hal yang mustahil diaminkan logika.

        Apa pasal? Dalam waktu beruntun saya mendapat kabar duka. Dua orang tua sahabat saya yang dirujuk berobat di Jakarta dan Manado, Allah panggil menghadapNya. Seketika saya terpukul. Selain karena kabar duka tersebut, saya teringat kondisi dua teman saya yang tidak memiliki sanak saudara di tempat rujukan sementara.

            Panik? Pasti! Saya hanya berpikir bagaimana mereka mengurus jenazah untuk dibawa kembali ke Sorong. Bagaimana penyelesaian persyaratan administrasi yang pasti akan memakan banyak waktu dan tenaga sedang mereka sendiri.

          Dalam kepanikan tersebut saya hanya ingat teman-teman Humas PKS di masing-masing wilayah. Meskipun sebelumnya sudah berkoordinasi pada saat pemberangkatan pasien ke rumah sakit rujukan.

        Saya coba kontak Bang Zack, mengabarkan bahwa ayah teman yang beliau jemput di Bandara Soekarno Hatta saat kedatangan telah meninggal. Qodarullah, Bang Zack di luar Kota sehingga belum dapat membersamai proses pemulasaraan jenazah.

        Sedangkan teman yang membawa berobat sang ibu di Manado membuat fokus saya terbagi. Selain karena memang kami tidak tahu menahu soal pengurusan jenazah yang akan diterbangkan, terbatas pula akses beliau dalam keadaan hati tengah berduka. Pukul 05.00 WITA, saya segera menghubungi Mbak Amalia sahabat saya ex Humas DPW yang saat ini menjadi aleg di Manado.

        Di pagi buta, Mbak Amal menghubungi beberapa teman kepanduan, rekan medis, bahkan rekan beliau di instansi terkait untuk membantu proses pengurusan jenazah. Saya tidak pernah mengira bahwa beliau akan turun sendiri menguruskan jenazah mbah ibu. Sektar pukul 10.00 WITA beliau dengan beberapa ustadzah sampai di RS dan langsung memastikan pengurusan surat menyurat diselesaikan.

        Bahkan beliau meminta izin kepada keluarga untuk memandikan jenzah mbah ibu dan memastikan jenazah mendapat pengurusan yang baik. Saya yang hanya dapat memonitor dari percakapan via WA tak henti meneteskan air mata. Allah pertemukan teman saya dengan Mbak Amalia. Allah mudahkan semua pengurusannya hingga pukul 19.34 WITA beliau mengabarkan bahwa proses sudah selesai. Hati saya membadai, semakin deras rinai di mata saya.

        Di sinilah betapa Allah menghadirkan orang-orang baik di sekeliling kita meski tak pernah mengenal sebelumnya, tak pernah bersua. Allah mengikat hati manusia dengan ukhuwah islamNya. Tak akan mungkin Bang Zack berkenan mencarikan informasi yang memudahkan ayah teman saya untuk tinggal sementara di Jakarta, menjemput di Bandara Soeta di tengah malam hanya dengan berbekal, “Ini keluarga saudara saya di Timur Indonesia!”.

        Tidak akan mungkin seorang emak dengan amanah kedewanan serta amanah kemanusiaan lain yang begitu menumpuk berkenan hadir, menguruskan bahkan memandikan jenazah dengan tangannya sendiri. Melakukan lobiying, dan memastikan ibu saudara saya bisa Kembali dibawa ke Sorong esok hari.

        Tidak akan mereka melakukan itu semua ketika berorientasi “berapa besar yang akan didapatkan”. Karena faktanya, mereka tidak mendapatkan kenikmatan duniawi apapun. Allah sang penggenggam jiwa yang menuntun hati-hati orang baik untuk terus berbuat baik. Allah sang pemilik hati yang selalu meluruskan qolbu para pejuang ini. Mereka yang memilih jalan sunyi untuk senantiasa berbagi.

        Saya yakin, masih banyak orang baik yang mendedikasikan diri di jalan terjal beronak duri. Orang-orang baik yang meyakini, “ Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.”

        Di tengah tetesan yang semakin menganak sungai, sebuah pesan WA masuk mengabarkan proses pengurusan jenazah dari Manado sudah selesai, menunggu keberangkatan esok pagi. Perasaan saya seketika bias. Syukur semua telah selesai dan sesag begitu kecilnya diri melihat orang-orang baik yang mendampingi sahabat-sahabat saya di pulau seberang. Alhamdulillah, Allah Swt permudahkan semuanya.

      Tulisan ini saya dedikasikan kepada orang-orang yang dengan kebaikan hatinya berkenan mengulurkan tangan kepada sesama. Memberikan senyum sebagai pengharapan kepada saudara. Menyalurkan semangat dalam peluk erat keluarga.

          Terima kasih teman-teman Humas PKS yang selalu sigap menjadi ujung tombak semua informasi bahkan eksekusi. Terima kasih Mbak Amal, Bang Zack semoga kebaikan yang kalian semua berikan Allah Swt memberikan balasan kebaikan yang berlipat ganda.

_dalam_sesenggukan_

Ngesti Wihayuningtyas

link: https://blog.pks.id/2021/09/Siapakah-Mereka-yang-Memilih-Jalan-Senyap-Nan-Berduri-itu.html